Minggu, 10 Februari 2013

Benteng Hati



       Ibnu Jauzi mengilustrasikan konflik antara manusia dan setan, iaberkata : sesungguhnya hati itu seperti benteng, di benteng itu ada tembok, di setiap tembok ada pintu, dan di pintu-pintu itu terdapat beberapa keretakan (Yaitu beberapa lobang atau celah), penhuni benteng adalah akal, malaikat sering datang ke benteng itu, di samping benteng ada rongga yang didalamnya ada udara, setan bolak-balik kerongga itu tanpa ada penghalang, perang terja diantara penghuni benteng dan penghuni rongga, setan selalu berputar-putar disekitar benteng menunggu penjaga benteng lalai dan dapat menyeberang lewat celah benteng.
         Semestinya penjaga benteng mengetahui semua pintu benteng dan semua celah-celahnya, penjaga benteng tidak boleh lengah dalam mengawasi di setiap sudut benteng walaupun sekejap, karena musuh tidak pernah lengah.
         Benteng ini disinari dengan dzikir sebagai sumber keimanan, didalam benteng itu ada cermin mengkilap yang dapat terlihat didalamnya gambar setiap benda yang lewat, maka pertama yang dilakukan setan di dalam ruang adalah memperbanyak asap, maka dinding benteng menjadi hitam, cermin menjadi berkarat, akal fikiran menjadi sempurna dengan menolak adanya asap, mengkilapkan dzikir dan mengosongkan cermin, musuh selalu menyerang, mereka (setan) kadang-kadang menyerang dan dapat memasuki benteng dengan menyergap penjaga kemudian keluar masuk benteng sehingga merusak semua yang ada di dalamnya, barang kali itu dilakukan untuk melenakan penjaga dan barangkali angin tidak berhembus agar dapat mengusir asap, maka tembok benteng menjadi hitam, cermin menjadi berkarat, maka setan melewatinyata pada yang mengetahuinya, setan melukai penjaga benteng karena kelalaiannya, kemudian menawan dan memanfaatkannya serta bertindak sesuai dengan persetujuan hawa nafsu dan membantu kemauan hawa nafsu.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More